
Oleh: Roisah Nurul Jannah
KAMMI Komisariat UPI
Mahasiswa UPI Pendidikan Sejarah 2007
“Sejak tahun 1924, Kemal Attaturk dengan kekuatannya berhasil mengantarkan dunia Islam pada sebuah ruang sejarah yang untuk pertama kalinya manusia-manusia beriman berjalan tanpa khilafah. Masa dimana ummat Islam mencari kebenarannya sendiri-sendiri, bahkan sampai saat ini.”
Itulah zaman ketika Barat mencapai puncak keberhasilannya, menyingkirkan Islam dari panggung kekuasaan dan politik.
Ketika Barat dengan wacana-wacana halusnya menguasai alam pikir manusia-manusia beriman tentang pemisahan agama dan Negara, tentang dunia dan akhirat yang mempunyai ruangnya masing-masing, tentang politik dan Negara yang milik publik dan tentang agama sebagai urusan perorangan. Namun, sebuah bangsa tak lantas berakhir dengan hilangnya khilafah, meski kini dunia dikuasai Barat, Islam tetap ada pada hati-hati yang percaya bahwa khilafah akan kembali menjadi rajanya.
Dalam buku Gerakan ke Negara milik Anis Matta, diungkapkan tentang berbagai kegagalan proyek sekularisasi Islam, sebagai berikut:
Pertama, kebangkitan pembaharuan gerakan Islam, empat tahun setelah runtuhnya khilafah, yang dimotori oleh Ikhwanul Muslimin—Hasan Al Banna, Sayyid Quthb, Yusuf Qardhawi, Sayyid Sabiq, Muhammad Al Ghazali, Muhammad Quthb, dll—berhasil menjadi gerakan Islam terbesar di lebih dari tujuh puluh Negara. Kedua, gerakan islamisasi kampus yang terjadi di seluruh dunia Islam menjadi perubahan besar bagi masa depan Islam.
Ketiga, suksesnya kudeta putih di Sudan tahun 1987 yang diikuti oleh proklamasi benua Afrika yang menjadikan Islam sebagai dasar Negara, maka hancurlah sekularisme disana. Keempat, jihad Afganistan selama empat belas tahun bukan hanya melahirkan kemerdekaan melainkan juga menjadi tonggak runtuhnya salah satu ideologi dunia, komunis. Akibatnya konflik ideologi dunia—Islam, komunisme, nasionalisme—menciut menjadi Islam-nasionalisme. Kelima, proses demokratisasi yang menyertai runtuhnya Uni Soviet telah mengakhiri rezim-rezim diktator dan memunculkan berbagai gerakan Islam menjadi partai Islam di berbagai negara. Munculnya partai Islam di Indonesia juga telah mengakhiri slogan sekuler “Islam Yes, partai Islam No”.
Masih dalam buku yang sama, Anis Matta dengan pemikirannya juga mencoba mengupas sebab dari kegagalan sekulerisasi yang dilihat dari dua perspektif, yaitu aqidah dan rasio. Dalam perspektif pertama, aqidah adalah pangkal dari keimanan umat-Nya. Dialah satu-satunya yang memiliki hak besar untuk menjadikan agama Islam ada dalam keabadian terlepas dari manusia mana saja yang mau mendukung ketuhanan-Nya yang mutlak atau mana saja manusia yang tidak merespon setiap perubahan dunia sebagai bagian-partikel dari janji-janji-Nya yang niscaya.
Dari perspektif rasio, Anis Matta berpandangan ada empat hal yang mungkin untuk diperhatikan. Pertama, kekuatan sekuler di dunia Islam tidak bersumber dari dunia Islam, tapi dari Barat atau Timur. Maka ketika Uni soviet runtuh, kekuatan Sosialisme-Komunisme di dunia Islam juga runtuh. Sekarang, begitu globalisasi meruntuhkan substansi dan batas-batas nasionalisme maka kekuatan nasionalisme di dunia Islam juga mengalami persoalan eksistensial.
Kedua, rezim-rezim diktator telah menciptakan penderitaan rakyat yang panjang. Maka ketika kebesaran kolektif telah sampai pada ujungnya, rakyat mencari landasan ideologi untuk melakukan perlawanan. Dalam hal ini, Islamlah yang kemudian menjadi jawabannya. Ketiga, kegagalan membangun telah menghilangkan kepercayaan masyarakat terhadap janji-janji modernisasi. Maka masyarakatpun berusaha mencari tesis-tesis alternatif. Sekali lagi Islamlah yang kemudian menjadi jawabannya. Keempat, gerakan-gerakan pemikiran Islam yang dibangun sebagai kekuatan prosekuler di dalam basis-basis pertahanan budaya Islam, baik yang dulu bernama Islam Liberal atau Islam kiri, tidak pernah sanggup membawa konsep-konsep yang original, komprehensif, berlandaskan metodologi yang kokoh dan output empiris yang sukses. Permasalahan yang seringkali muncul dari gerakan-gerakan macam ini adalah ketergantungan terhadap dukungan politik, media dan dana dari Barat.
Menurut Sayyid Quthb, ada beberapa tingkatan praktis dalam masyarakat sekuler yang berkembang dewasa ini. Sebagian dari mereka menyatakan terang-terangan tidak ada hubungan sama sekali dengan agama. Sebagiannya lagi menyatakan bahwa “masyarakatnya memberikan tempat terhormat terhadap agama”, tetapi sebenarnya mereka sama sekali mengeluarkan agama dari sistem sosialnya. Yang lain menyatakan tidak percaya pada hal-hal yang ghaib , oleh karena itu mereka mengklaim sistemnya secara ilmiah, sebab setiap yang ilmiah bertentangan dengan yang ghaib.
Seorang ilmuwan Barat, Dr. V. Fitzgerald, menyatakan bahwa, “Islam bukanlah semata agama, namun juga merupakan sebuah sistem politik. Meskipun pada dekade-dekade terakhir ada beberapa kalangan dari Umat Islam mengklaim sebagai kalangan modernis yang berusaha memisahkan dua sisi itu. Namun, seluruh pemikiran islam dibangun di atas fundamen bahwa kedua sisi itu saling bergandengan dengan selaras dan tidak dapat dipisahkan satu sama lain.”
Hal tersebut semakin dikuatkan dengan persetujuan salah seorang ilmuwan Barat yang lain, Prof. C.A. Nalino yang mengatakan, “ Muhammad telah membangun dalam waktu bersamaan agama dan Negara. Dan batas-batas teritorial Negara yang dibangun itu terus terjaga sepanjang hayatnya.”
Inilah, hal-hal yang mestinya dipikirkan secara mendalam oleh kaum muslim. Bahkan sekulerisme bukanlah ide-ide pokok yang harus direspon lebih jauh. Gerakan yang senang bermain retorika, rasionalisasi, mengaku kritis, tidak produktif dan seringkali menjadi pengganggu gerakan Islam yang mereka sebut “ Islam Fundamentalis ”, daripada bergerak secara kongkret untuk mengaplikasikan lebih dalam secara nyata konsep-konsep yang mereka ajukan dalam tataran realitas yang praktis. Ingatkah kita betapa rapuhnya ketika output dari sekularisme itu sempat menjadi raja di bumi Indonesia dengan seorang tokoh yang begitu digandrungi oleh kalangan dalam dan luar negeri, ternyata dengan upaya selama dua puluh tahun hanya mampu menduduki kursi presiden selama dua puluh satu bulan saja: Gus Dur!!
Nyanyian Pahlawan
Aku datang menguak fajar
Katakan padaku wahai hari
Apa yang dapat kuberikan
Pada sejarah hari ini
Aku datang mengantar senja
Katakan padaku wahai malam
Berapa bintang kau perlukan
Untuk menerangi langitmu
Inilah lagu cinta dan kehormatan
Yang kunyanyikan dengan tekad
Wahai umat wahai bangsa
Aku selalu ada di sini
Saat darah saat air mata
Aku datang mengantar umat
Pada gerbang sejarah baru
| Comments |
|
Hak Cipta © PSDO KAMMI Jawa Barat 2010 All Rights Reserved. Diperbolehkan menyalin konten situs ini dengan menyertakan sumbernya.
Isi tulisan merupakan Hak Cipta dari pemiliknya. PSDO KAMMI Jawa Barat tidak bertanggung jawab atas isi tulisan tersebut.
Powered by Joomla. Template 'pjo_pickjoomla' by pickjoomla.com. Heavily modified by Mif Al Ghafiqi.