CATATAN FLASH BACK DM II KAMDA BDG
PEMERATAAN DAN PERLUASAN AKSES
Risma Kharisma
Administrasi Pendidikan UPI Semester 7
KAMMI UPI
Masalah ini kenapa saya kaitkan dengan pemerataan dan perluasan akses, karena ini berkaitan dengan permasalahan pendidikan dan kebijakan pendidikan. Ketika saya membuat laporan ini, saya sedang megontrak mata kuliah kebijakan pendidikan dan Alhamdulillah, berkat topic saya ini, saya mendapatkan nilai A untuk mata kuliah ini, tentunya dengan presentasi, sedikit narsis sich, soalnya membawa nama KAMMI juga disana (gapapa da dosennya juga kader ieu…). Mohon masukan tulisan saya ini. Dan ana minta solusi dari antum mesti seperti apa. Setuju tidak dengan solusi yang ana tawarkan, tapi bagaimana dengan penyaluran aspirasi ini? Ana pengen apa yang ana tulis ini bisa nyampe ke yang bersangkutan dan berwenang dalam mengatasi permasalahan ini.
ANALISA KONDISI
Mayoritas penduduk Kecamatan Cikole, Lembang bekerja sebagai buruh tani. Menurut Ibu Odih (Warga Kampung Dukuh 3, Kecamatan Cikole), jumlah penghasilan yang diperolehnya dari bekerja buruh tani yaitu Rp. 8000/hari (upah untuk pegawai wanita), tetapi berbeda dengan suaminya yang digajih sejumlah Rp. 12000/hari. Jadi total penghasilan keluarga Ibu Odih adalah Rp. 20000/hari yang akan diakumulasikan sampai 1 minggu dan penerimaan upah diterima setiap hari kamis. Namun, menurut Ibu Odih upah itu hanya mencukupi kehidupan sehari-hari saja, misalnya: makan, minum, dan mencuci. Sehingga dana untuk pendidikan anak-anaknya tidak mencukupi, sehingga ketiga anaknya itu terpaksa memilih untuk tidak bersekolah (hanya tamatan SD saja). Hal ini dikarenakan letak sekolah menengah jauh dari kampong tersebut, harus menempuh jarak 2jam dan harus mengeluarkan ongkos Rp. 10000/hari. Sedangkan penghasilan rata-rata penduduk adalah Rp. 20000/hari.
Ibu Odih sendiri memilih ketiga anaknya untuk tidak melanjutkan sekolah menengah (SMP dan SMA). Anak pertamanya yang perempuan sengaja dinikahkan dengan seorang pria karena untuk mengurangi beban keluarga, padahal usia anaknya itu masih dini yakni 17 tahun dan sekarang sudah mempunyai 1 anak, ia menikah ketika usianya 15 tahun. Rata-rata penduduk di kampung tersebut lebih memilih menikahkan anaknya dengan seseorang daripada menyuruh atau mengusahakan anaknya untuk terus bersekolah. Sementara kedua anak Ibu Odih yang lainnya lebih memilih membantu ibunya bekerja di ladang milik pak Endang yang juga pemilik pesantren di sekitar wilayah tersebut.
Karena penjualan hasil kebun melalui Bandar, maka hasil yang diperolehpun cukup sedikit. Lokasi inipun belum pernah tersentuh dan terjangkau oleh pengamatan pemerintah. Padahal Sumber Daya Alam (SDA) di desa tersebut sungguh sangat melimpah ruah, tapi sayang dikuasai oleh seorang Bandar sehingga hal itu bukan asset kemajuan dari daerah tersebut lagi tapi sudah dimonopoli oleh seorang Bandar.
Untuk permasalahan pendidikan, di daerah tersebut didirikan sebuah pesantren oleh Pak Endang (seorang saudagar kaya pemilik sawah yang ada di desa tersebut) dan peserta didiknya khusus untuk anak-anak yatim/yatim-piatu dan mereka tidak dikenakan biaya sepeserpun. Untuk mengatasi anak-anak yang terpaksa putus sekolah, pendiri pondok pesantren tersebut mendirikan sebuah kelompok belajar Paket C, namun karena SDM yang kurang program ini tidak berjalan lancar sehingga masih banyaknya penduduk yang malah enggan dan tidak mau mengikuti program tersebut. Di desa tersebut setiap hari kamis diadakan pendidikan khusus keagamaan bagi remaja, dan setelah diamati lumayan banyak yang berminat juga untuk hal ini, kegiatan ini berlangsung setiap 1 minggu sekali dan dilaksanakan setiap hari kamis. Selain itu, diadakan juga program pengajian rutin untuk bapak-bapak/ibu-ibu yang dilaksanakan setiap hari senin.
Sungguh sangat miris memang jika kita lihat kondisi tersebut. Anak-anak tersebut sesungguhnya layak untuk mendapatkan pendidikan, karena sekolah menengah sudah bebas biaya. Namun karena letak sekolahnya jauh dari rumah mereka maka mereka pun harus membuang jauh-jauh mimpi tersebut. Seharusnya pemerintah harus lebih peka terhadap kondisi tersebut supaya semua wilayah dan semua kalangan dapat tersentuh pendidikan dan tidak ada lagi anak-anak yang putus sekolah.
ANALISIS SWOT
1. Kekuatan
· Masyarakat yang lemah karena kultur agrarisnya
· Adanya bupati baru
· Minim konflik vertical antara masyarakat dengan pemerintah
· Memiliki daerah yang subur
2. Kelemahan
· Tingkat IPM masih rendah sekitar 62,92%
· Relative sedikitnya gerakan oposisi terhadap pemerintah yang berkuasa
· Tingkat kesadaran pendidikan masyarakat masih rendah dengan indicator di daerah kecamatan Cikole yang masih banyak anak yang putus sekolah dan buta huruf
3. Peluang
· Pemerintah masih bersih dari pidana
· Saudagar kaya yang peduli tentang pendidikan
4. Ancaman
· Pemerintah tidak peka terhadap kondisi masyarakat
· Banyaknya anak yang putus sekolah
· Perekonomian petani dikuasai oleh Bandar
· Sekolah Menengah tidak terjangkau oleh ekonomi penduduk (jauh)
TARGETAN PROGRAM DAN AGENDA KE DEPAN
1. Program pengentasan putus sekolah dengan meningkatkan kualitas pendidikan di KBB
2. Pemberdayaan ekonomi petani dengan menngkatkan kesejahteraan masyarakat petani
3. Mengadakan kerjasama antara gerakan mahasiswa dengan pemerintah kecamatan dan kabupaten untuk melakukan peltihan ataupun workshop tentang pendidikan dan teknologi yang modern
4. Meminimalisir jumlah penduduk yang tidak memiliki keahlian sehingga nantinya mereka bisa berdikari
SOLUSI
Pihak dinas pendidikan menyediakan mobil antar-jemput gratis bagi yang kurang mampu, tentunya bagi mereka yang jarak antara rumah dan sekolahnya jauh dan tidak mudah diakses oleh transportasi angkutan umum.
| Comments |
|
|
||||||||
Hak Cipta © PSDO KAMMI Jawa Barat 2010 All Rights Reserved. Diperbolehkan menyalin konten situs ini dengan menyertakan sumbernya.
Isi tulisan merupakan Hak Cipta dari pemiliknya. PSDO KAMMI Jawa Barat tidak bertanggung jawab atas isi tulisan tersebut.
Powered by Joomla. Template 'pjo_pickjoomla' by pickjoomla.com. Heavily modified by Mif Al Ghafiqi.