
Risma Kharisma
Administrasi Pendidikan UPI Semester 7
KAMMI UPI
Astaghfirullah! Mataku memanas, seluruh persendian tubuhku terasa lemas, telingakupun tak jua kalah memanasnya dengan mata. Segera kututup telpon dan menghapus satu persatu pesan singkat tadi. Buru-buru ku jauhkan telepon genggamku dari tanganku supaya tidak menyentuhnya untuk saat ini. Ah, Allah … kuatkan hambaMu. Di HP itu, selintas kulihat bayangannya. Allah … Bantu hamba.
Air mataku mulai menetes, saat telepon itu kembali berdering. Aku bingung, harus bagaimana mengayunkan tangan ini. Angkat telepon itukah … tidak, aku tidak mau menerima telepon dari siapapun saat ini. Pergi syuro… tidak, demi Allah, aku tidak ingin bertemu dengan siapa pun saat-saat seperti ini. Kuputuskan untuk diam di kamar kontrakanku sekarang, aku ingin menghadap Allah memohon ampunanNya. Air mataku terus mengalir dan semakin kencang tangisnya. Tak kupedulikan ketukan pintu kamar kosanku, teman sekosan memang bermaksud berempati terhadapku yang sedang butuh teman curhat. Tapi tidak kubukakan pintu itu, tetap terkunci. Aku malu … Allah, ampuni aku. Ku basuh anggota wudhu’, lalu kubuka mushaf Al-quran. Peristiwa tadi membayang kembali. Curhat dengan seorang ikhwan lewat HP. Sejenak aku tertegun, curhat? Kuingat lagi kalimat-kalimat yang kutulis tadi. Ya Allah … kenapa aku sampai lalai? Astaghfirullah, tanpa sadar aku telah membuka peluang bagi setan untuk ‘meracuni’ hati ini.
Sebulan belakangan, amanahku memang menumpuk. Seringkali aku sampai di kosan lebih jam delapan malam, setelah seharian di luar. Itu pun masih harus bergadang sampai jam 12 atau jam 1 malam. Qiyamul-lail pun sering berlalu begitu saja, hampir tak berbekas. Qiroah quran sekedar mengejar target. Terasa Allah jauh dari hati. Sampai hari itu … sejak pagi kondisi kesehatanku sudah kurang baik, aku tidak makan sejak malam. Beban pikiran pun menumpuk karena banyak anggota yang tidak melaksanakan amanahnya. Selesai membaca beberapa halaman Al-quran, kutemui seorang ukhti untuk minta taushiyah. Cukup lama rasanya aku tak pernah mendapat taushiyah dari akhwat, dari kaka tingkatku satu jurusan.
“Di satu sisi, ukhti layak mengintrospeksi diri, kenapa ini bisa terjadi? Jawaban paling mungkin adalah hati ukhti sedang jauh dari Allah, dan mungkin ikhwan tersebut juga sedang dalam kondisi yang sama. Ana lihat, ibadah ukhti menurun belakangan ini, dan kondisi seperti ini memang sangat rentan. Ana tahu, beban ukhti sekarang sangat berat, dan ukhti tak punya teman berbagi, tak punya senior tempat menumpahkan keluh kesah. Ana juga minta maaf karena kesibukan selama ini, tidak bisa banyak membantu. Tapi di sisi lain, ukhti masih harus bersyukur. Antuma masih dijaga Allah dari dosa yang lebih jauh. Antuma masih diberikan Allah ‘kepekaan spiritual’ untuk bisa melihat kemaksiatan, hingga antuma segera tersadar.
Sekarang, banyak ikhwan dan akhwat yang terjerumus dalam pergaulan tidak Islami. Rapat berdua, makan di cafe satu meja, apalagi sekedar curhat-curhatan, itu sudah biasa bahkan sampai masalah pribadi. Naudzu billah, kalau kondisi ini menjadi penyebab jauhnya pertolongan Allah dari dakwah yang kita lakukan sekarang. Sekarang tinggal bagaimana ukhti menata hati lagi. Ana yakin, ini adalah sebuah ‘hadiah’ indah dari Allah untuk anti, bahwa beban berat dakwah ini menuntut kesiapan yang lebih besar. Ana yakin, anti bisa menjaga hati, hanya saja kadang maksiat besar berawal dari hal-hal kecil seperti tadi. Makanya jangan sampai dianggap remeh. Sekali lagi, ana yakin, ukhti termasuk orang-orang pilihan Allah. Tegarlah ukhti, dan … JAGA HATI EKSTRA HATI-HATI. Ini yang pertama dan terakhir ya …;-)”.
Shalat maghrib kali ini terasa amat menentramkan. Dengan sepenuh raja’ dan khauf, kuhadapkan diri ini pada rabb semesta alam. Kurasakan kedamaian menjalar bersama aliran darahku. Allah … betapa luas rahmatMu, betapa Engkau telah menjagaku dari kubangan dosa. Terasa teguran Allah melantun indah. Seolah Allah menegurku untuk jeda sejenak, mengingat kebesaranNya. Tiadalah manfaat setumpuk amal, kalau niat tak ikhlas, dan caranya tak sesuai syariat. Amal dan maksiat selamanya tak kan pernah bisa berdampingan. Karenanya, para pelaku dakwah harus senantiasa ‘membasuh’ jiwanya, seiring perjalanan dakwah yang dilalui.
Spesial: Teruntuk generasi penerus di kampus ataupun ekstra kampus, ikhwan dan akhwat, jagalah kemurnian dakwah ini dengan akhlak Islami. Semoga Allah memudahkan jalan yang kita lalui.
Wallahua’alam….
| Comments |
|
|
|||||||||
|
|||||||||
|
||||||||||
|
||||||||||
Hak Cipta © PSDO KAMMI Jawa Barat 2010 All Rights Reserved. Diperbolehkan menyalin konten situs ini dengan menyertakan sumbernya.
Isi tulisan merupakan Hak Cipta dari pemiliknya. PSDO KAMMI Jawa Barat tidak bertanggung jawab atas isi tulisan tersebut.
Powered by Joomla. Template 'pjo_pickjoomla' by pickjoomla.com. Heavily modified by Mif Al Ghafiqi.