Berbicara masalah
demokrasi dan islam adalah membicarakan sesuatu yang cukup krusial bagi
keberlangsungan kehidupan bernegara di Indonesia,percdebatan panjang masalah
demokrasi, islam secara historis telah di lakuka oleh founding father kita.
Yang paling menarik adalah perdebatan antara soekarno dan Muhammad Natsir yang
begitu luar biasa pada siding konstituante. Ada yang setuju terhadap demokrasi
dan ada pula yang anti demokrasi, tapi tidak mengapa itu adalah pilihan politik
yang menjadi dasar dan di hargai dalam demokrasi sendiri. Walaupun tanpa
disadari orang yang mengutuk demokrasi pun hari ini sedang menikmati buah dari
demokrasi di Indonesia. Ada hal yang penting yang harus di bicarakan pada
kesempatan hari ini mengenai reposisi wacana universal antara demokrasi dan
islam ,islam dan nasionalisme dalam konteks ke indonesiaan.
“Jangan berhenti tangan mendayung,nanti arus membawa hanyut”
(Mohammad Natsir, 17 Agustus 1951)
Apakah dirimu pernah
membaca tulisan Akhi Imron Rosyadi tentang KAMMI? Bagi yang belum, tak salah
kiranya bagiku untum cantumkan di sini. Ada sebuah tulisan yang membuatku
terkesima; benar-benar membuatku tersadarkan. Tulisan beliau yang berjudul
“Namaku KAMMI: An autobiographical sketch” telah membuatku bertambah jatuh
cinta kepada KAMMI. Kini tulisan ini sudah dimasukkan sebagai salah satu
tulisan buku “Mengapa Aku Mencintai KAMMI: Serpihan Hati Para Pejuang” yang diterbitkan
oleh penerbit Muda Cendekia, Bandung Maret 2010. Kalau dirimu membaca buku
“Mengapa Aku Mencintai KAMMI: Serpihan Hati Para Pejuang”, itu adalah judul dan
tagline yang sengaja kuberi untuknya. Di buku sederhan itu kutulis pengantar
yang berjudul “Karena Mereka Elang Muda!”. Bukan karena KAMMI dan kader-kader
KAMMI kujadikan sebagai thogut, namun
itulah kata-kata yang menjadi “juru bicara” terbaik bagi pikiranku selama ini.
Terutama ketika tersemangati oleh obsesiku melalui Muda Cendekia untuk membukukan
semua ide atau gagasan dan apapun yang ada di KAMMI, potensi dan keunikan
kader-kadernya.
Berbicara masalah
demokrasi dan islam adalah membicarakan sesuatu yang cukup krusial bagi
keberlangsungan kehidupan bernegara di Indonesia,percdebatan panjang masalah
demokrasi, islam secara historis telah di lakuka oleh founding father kita.
Yang paling menarik adalah perdebatan antara soekarno dan Muhammad Natsir yang
begitu luar biasa pada siding konstituante. Ada yang setuju terhadap demokrasi
dan ada pula yang anti demokrasi, tapi tidak mengapa itu adalah pilihan politik
yang menjadi dasar dan di hargai dalam demokrasi sendiri. Walaupun tanpa
disadari orang yang mengutuk demokrasi pun hari ini sedang menikmati buah dari
demokrasi di Indonesia. Ada hal yang penting yang harus di bicarakan pada
kesempatan hari ini mengenai reposisi wacana universal antara demokrasi dan
islam ,islam dan nasionalisme dalam konteks ke indonesiaan.
Dan katakanlah: "Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta
orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan
dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang gaib dan yang
nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan". (QS At-Taubah : 105)
Tanpa terasa satu tahun sudah perjalanan ini kita tempuh. Banyak suka
dan duka yang telah kita lewati bersama. Ada romantika, emosi jiwa,
juga keringat dan air mata telah membasahi kegersangan padang ujian
yang kita lewati. Beberapa rencana direvisi dan tidak sedikit posisi
yang terganti. Namun kita tidak boleh berhenti bersyukur, karena Allah
hanya mengutus mereka yang terpilih –the special one- untuk meneruskan
risalah para Nabi dan Rasul. Allah hanya mempercayakan kepemimpinan
semesta ini pada mereka yang memang pantas diuji.
Oleh :
Syamsul Ma’arief Ketua Umum KAMMI Daerah Bandung
Memasuki
detik-detik akhir menjelang momentum 100 hari masa kepemimpinan SBY-Boediono,
situasi dan kondisi terasa mulai memanas. Tidak hanya di Jakarta sebagai pusat
pemerintahan, bahkan aura demonstrasi besar-besaran mulai menghangat di
sejumlah daerah. Tidak hanya kalangan mahasiswa, kalangan buruh, tani, dan
berbagai elemen gerakan pun mulai mempersiapkan diri menyambut tanggal 28
Januari 2010.
Di pihak lain,
pemerintah pun tidak tinggal diam. Setelah membuat kesepahaman antar partai
politik anggota koalisi, SBY mengumpulkan sejumlah petinggi lembaga negara.
Dalam salah satu acara di media elektronik, pakar komunikasi politik, Effendi
Ghazali menjelaskan bahwa dalam komunikasi politik yang dilakukan SBY kepada
para petinggi lembaga negara tersebut, ada tiga hal yang patut diperhatikan.
Yang pertama adalah niat. SBY menjelaskan bahwa niat atau maksud beliau
mengumpulkan para petinggi lembaga negara tersebut adalah sebagai ajang
silaturahim. Selain itu juga tercium aroma “pengkondisian” para petinggi
lembaga negara untuk menjaga stabilitas politik di Indonesia.
Risma Kharisma KAMMI Komsat UPI Bandung Mahasiswa UPI Bandung Jurusan Administrasi Pendidikan Semester 7
Kenapa saya memilih judul artikel ini?
Karena menurut saya isinya menarik. Kenapa menarik? Karena pendidikan merupakan
kunci kesuksesan bagi sebuah Negara. Jika pendidikan dapat tertata dengan baik
maka pembangunan Indonesia akan berjalan lancar. Saat ini kondisi pendidikan di
Indonesia sangat memprihatinkan. Untuk itu perlu dibangkitkan kembali dengan
menempatkan pendidikan agama sebaga kunci utamanya. Karena letak kebangkitan
suatu bangsa berawal dari pendidikannya yang sukses baik dari sisi Iptek maupun
Imtaq.
Usai Dorong-dorongan, KAMMI dan Polisi Salat Ashar di Tengah Jalan
Detik Bandung - Setelah gagal menembus barisan polisi yang mengamankan Jalan Taman Sari yang menuju Sabuga, sekitar 200 mahasiswa yang tergabung dalam Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) melakukan salat ashar di tengah jalan. Aksi mereka ini pun diikuti para polisi.
TEMPO Interaktif, Bandung: Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia Daerah Jawa Barat melakukan aksi unjuk rasa menjelang deklarasi pencalonan SBY-Boediono menjadi Calon President dan Wakilnya di Sasana Budaya Ganesa Bandung. "KAMMI Jabar menolak pencalonan kembali SBY, Mega dan JK karena mereka peminpin gagal," ujar Andiyana Ketua KAMMI Jabar.Jum'at, (15/5).
Detik Bandung - KAMMI Jabar menggelar demonstrasi mengkritik deklarasi SBY-Boediono. Sekitar 200 orang bergerak dari Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat di Jalan Dipati Ukur menuju Kebun Binatang Bandung, Jalan Taman Sari.
Suara Merdeka Cybernews - Jakarta, CyberNews. KAMMI Jawa Barat menilai Megawati, SBY, dan JK sebagai sosok yang gagal memimpin Indonesia. Karena itu, KAMMI menyatakan menolak pencapresan ketiga tokoh tersebut.
"Kami menolak pemimpin gagal yaitu Megawati, SBY, dan JK untuk memimpin Indonesia," tegas KAMMI Jawa Barat dalam siaran persnya kepada SM CyberNews, Jumat (15/5).
KAMMI Tolak Cawapres Kaki Tangan Kepentingan Asing
Media Indonesia - BANDUNG--MI: Sekitar 150 aktivis Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Jawa Barat, Jumat (15/5) berunjuk rasa menolak capres dan cawapres yang menjadi kaki tangan kepentingan asing.
Aksi yang digelar aktivis mahasiswa itu berlangsung di sela-sela persiapan Deklarasi pasangan capres/cawapres dari Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono dan Boediono yang akan digelar di Sasana Budaya Ganesha ITB Kota Bandung, Jumat (15/5) malam.
izin mau jadiin artikel ini buat refe...
jelas bukan bu. nggak mungkin saya pa...
sapa ygmasang gambar akhwat di tulisa...
afwan itu bukan cikole...tapi cisarua...
asw.afwan tulisan anti persis dari su...